Belakangan ini, banyak hal yang terjadi dalam kehidupan saya. Begitu banyaknya saya sampai lalai untuk bersyukur atas semua hal tersebut. Mulai dari bersyukur atas munculnya jawaban dari salah satu do’a yang hampir selalu(red, tak lupa) saya panjatkan disetiap sujud saya. Sampai mensyukuri masalah yang muncul beriringan dengan jawaban tersebut. Semoga Allah SWT tetap melimpahkan perhatian dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yang satu ini.Amin.
Cukup dengan pendahuluannya. Jawaban. Kenapa saya cetak tebal? Alasannya adalah karena kata ini adalah salah satu hal yang ingin saya bahas untuk saat ini.
Jawaban. Berdasarkan KAMUS LENGKAP BAHASA INDONESIA yang saya miliki. Anehnya, tidak ada kata jawaban dalam kamus saya. Sungguh aneh, kenapa sang penerbit(atau sang pengarang? Entahlah, siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini) berani menggunakan kata lengkap(tak lupa dengan iringan penulisan cetak tebal dan penggunaan huruf kapital sesuai dengan pola dalam ber-Bahasa Indonesia yang baik dan benar)kalau pada kenyataannya banyak kamus bahasa Indonesia lain yang dicetak jauh lebih tebal, yang menurut logika pasti akan jauh lebih lengkap dibanding kamus yang saya miliki. Entahlah, mungkin karena kata ini merupakan kata berimbuhan. Baiklah, dengan menggunakan pengetahuan ber-Bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang sudah saya dapatkan semenjak Sekolah Dasar. Saya akan mencoba menjelaskan arti kata jawaban. Berdasarkan kata dasar dan akhiran -an(saya sempat bingung memikirkan kata lain yang memiliki pola yang sama dengan kata ini. Sejauh ini saya hanya mendapatkan beberapa kata seperti : mobilan, kutuan, layangan , panuan dan kata-kata lainnya yang entah mengapa tidak membantu saya dalam penelusuran arti kata yang dibentuk oleh penggunakan akhiran -an) yang digunakan, jawaban memiliki arti segala sesuatu yang berkaitan dengan sambut, sahut atau balas.
Cukup dengan prolog tentang jawaban. Hal yang ingin saya tekankan pada tulisan ini adalah “benarkah semua jawaban atas semua do’a yang saya panjatkan merupakan yang terbaik ?”.
Sebagai manusia, disadari atau tidak, saya selalu mengharapkan segala sesuatu yang lebih dari sekadar baik, paling baik jika memungkinkan atau setidaknya lebih baik. Namun, apakah hal yang baik menurut manusia merupakan hal yang sudah cukup baik bagi Allah SWT ? Saya harus belajar lebih banyak tentang sabar dan syukur.
Selama ini, saya selalu protes terhadap segala sesuatu yang berjalan di luar kehendak saya. Mungkin saja semua hal tersebut memang ditakdirkan untuk berjalan seperti itu. Kenapa? Agar saya bisa belajar. Pasti ada hikmah disetiap kejadian. Terima kasih ya Allah atas semua yang telah Engkau berikan.
adjieee… tulisannya nggak kepanjangan nih prolognya? initinya dikit amat?? itu kayaknya masih bisa di-elaborate deh intinya… soalnya kalo dibaca, gak ngerti banget apa yang mau diomongin.
Salam
Aza